Ah! Lamar Jadi SPG, Dibelokkan Jadi PSK

Januari 27, 2011

SURABAYA, KOMPAS.com Bisnis prostitusi yang dirintis Mario, pemuda 26 tahun asal Jalan Ploso Timur Gang VIII Surabaya, dibongkar anggota Unit Pidana Tertentu Satreskrim Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, Minggu (9/1/2011).

Untuk menjaring korbannya, Mario biasa memasang iklan di sebuah koran. Iklan itu berbunyi “Lowongan kerja sebagai SPG untuk acara-acara otomotif dan rokok”. Dia beriklan pada Desember 2010 lalu. Dari iklan itu, terjaring dua wanita muda berusia sekitar 20 tahun. Keduanya adalah Lala (22), warga Grobogan, Jawa Tengah, dan Santi (20), warga Surabaya.

“Saya sudah beri tahu mereka bahwa usaha saya ini adalah massage (pijat) panggilan di hotel,” kilah Mario di Markas Polrestabes Surabaya.

Karena lugu, Lala dan Santi mau saja dengan pekerjaan sebagai pemijat. Namun, yang membuat keduanya terjebak adalah ketika belum apa-apa mereka secara bergantian dipaksa melayani nafsu syahwat Mario.

Mario mengeluarkan ancaman, jika melawan, dirinya akan mengungkap dan membeberkan peristiwa itu agar mereka malu. Ia pun mengancam akan memberi tahu orangtua kedua gadis itu bahwa anaknya telah terjerumus ke dunia hitam. Akhirnya, Lala dan Santi tak berkutik.

Untuk memasarkan Lala dan Santi, Mario memasang iklan di media cetak lagi. Dalam iklan itu, Mario membuka layanan pijat call to hotel dengan tarif Rp 350.000 sampai Rp 500.000. Kedok bisnis prostitusi milik Mario ini terbongkar setelah seorang korbannya melapor. Wanita muda bernama Fanny (22) ini berasal dari Lumajang. Dia memilih bekerja di Surabaya lantaran tergiur menjadi SPG.

Korban terbaru Mario ini memang belum “dipasarkannya”. Untuk mengikat Fanny, Mario terlebih dahulu memerkosanya. Sudah sebulan ini Mario melakukan aksi bejatnya atas Fanny. “Dia belum layak bekerja, makanya saya ajari dulu. Kalau sudah bisa, baru dia bekerja biar tidak mengecewakan konsumen,” kilah Mario lagi.

Korban diajari melayani nafsu bejat para konsumen dengan sampel Mario sendiri. Tentu saja, semua “pelajaran” diberikan Mario dengan ancaman sehingga korban yang umumnya para gadis lugu tidak bisa berbuat apa-apa.

Ancaman Mario kepada dua korban sebelumnya benar-benar dibuktikan kepada Fanny. Mario mendatangi rumah Fanny di Lumajang untuk mengatakan kepada orangtuanya tentang sudah dilakukan Fanny selama di Surabaya.

Mendapatkan gertakan itu, Fanny yang berkulit kuning langsat itu tidak keder. Bahkan, melalui kenalannya di Surabaya, Fanny melaporkan kasus ini ke polisi. Polisi kemudian membentuk tim khusus yang dipimpin Kepala Subnit Pidana Tertentu Iptu Yunus, untuk menyelidiki kasus ini.

“Dari laporan Fanny, kami berangkat ke Lumajang untuk menangkap tersangka. Setelah kami pancing, tersangka akhirnya muncul,” ujar Kepala Satreskrim Ajun Komisaris Besar Anom Wibowo didampingi Kepala Unit Pidana Tertentu Ajun Komisaris Andy Sinjaya.

Dari tangan Mario, polisi menyita buku yang berisi daftar pelanggannya. Dari penangkapan inilah, polisi berhasil menyelamatkan dua korban lainnya.

Hanya dalam tiga bulan, bisnis esek-esek Mario ini maju pesat. Rata-rata, dalam sebulan ada 20 panggilan laki-laki hidung belang masuk ke Mario. Artinya, dalam sebulan saja pemasukan Mario mencapai Rp 8 juta.

Untuk mengikat korbannya, Mario sengaja mengumpulkan mereka di sebuah kos-kosan elite di kawasan Dukuh Kupang Timur XIV. Semua uang yang dibayarkan pelanggan kepada korban harus diserahkan ke Mario.

Pemuda bertubuh tambun itu hanya memberi korban uang untuk keperluan membayar kos, membeli kosmetik, dan baju saja. Selebihnya, uang ada di tangan Mario yang dia habiskan untuk foya-foya. “Korban jelas tidak leluasa untuk bepergian. Kalaupun bisa, mereka tidak bisa melapor karena diancam akan disebarluaskan ke keluarga mereka,” imbuh Andy Sinjaya.

Cara Mario memasarkan para korbannya terbilang sangat agresif. Dalam sehari, Mario bisa memasang hingga tujuh iklan baris sehingga terlihat menonjol. Trik ini membuahkan hasil karena jaringan dan pelanggan Mario terus bertambah setiap bulan.

Polisi menjerat Mario dengan Pasal 2 UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan diancam penjara maksimal 15 tahun. Namun, bisa jadi jerat hukum terhadap Mario bertambah karena korban mengaku ada unsur pemaksaan dalam berhubungan seks sebelum korban diperjualbelikan sebagai PSK.

 

Sumbernya klik disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: